DAURAH RUQYAH SYARIYYAH

Konsep Terapi Jiwa
Dalam Perspektif Ruqyah Syar’iyyah
Subtema
- Menggapai Ridha Allah dan Ketenangan Batin
- Diagnosis dan Terapi Penyakit Batin: Menangani Gejala Tanpa Harus Menentukan Jenis Gangguan
By Yahmin Al Jaawiy
A. PENGANTAR
Ketika seseorang datang dengan keluhan seperti takut, gelisah, sulit tidur, sering menangis, marah, merasa tertekan, waswas, badan terasa tidak nyaman, atau mengalami perubahan perilaku, jangan langsung menyimpulkan:
“Ini pasti gangguan jin.”
Jangan pula langsung mengatakan:
“Ini pasti karena dosa.”
Dan jangan terburu-buru menyimpulkan:
“Ini pasti ain atau sihir.”
Seorang pendamping perlu melakukan Tahqiqul Manat (memastikan masalah yang sebenarnya), yaitu berusaha memahami kondisi nyata yang sedang dialami seseorang sebelum menentukan bentuk pendampingannya.
Dalam pendekatan Islami, kita melihat manusia secara utuh:
jasad – akal – hati – ruh – keluarga – lingkungan – ibadah.
Karena itu, keluhan seseorang dapat memiliki sebab yang beragam:
- faktor fisik atau medis;
- faktor psikologis dan pengalaman hidup;
- masalah keluarga dan lingkungan;
- kebiasaan dan pola hidup;
- persoalan ibadah dan hubungan dengan Allah;
- atau kemungkinan adanya gangguan seperti ain, sihir, atau waswas setan.
Semua kemungkinan tersebut tidak boleh langsung dipastikan hanya berdasarkan satu atau dua tanda.
Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan umatnya untuk melakukan pengobatan:
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.”
(HR. al-Bukhari no. 5678)
Karena itu, ruqyah syar'iyyah bukan alasan untuk mengabaikan pemeriksaan medis atau pendampingan psikologis ketika memang diperlukan.
B. APA YANG DIMAKSUD DENGAN “CLEANSING MEMORIES”?
Istilah cleansing memories dapat digunakan sebagai istilah sederhana untuk masyarakat awam.
Namun, maksudnya bukan menghapus ingatan seseorang.
Yang dilakukan adalah:
mengenali pengalaman yang membekas → memahami pengaruhnya → memperbaiki respons hati → melakukan taubat jika ada dosa → memaafkan dan berdamai dengan masa lalu → menguatkan hubungan dengan Allah → kemudian membangun pola hidup yang lebih sehat.
Dengan bahasa sederhana:
Bukan menghapus masa lalu, tetapi mengubah cara kita hidup setelah mengalami masa lalu.
Contohnya:
Seseorang pernah dipermalukan ketika kecil.
Pengalaman tersebut mungkin masih tersimpan dalam ingatannya.
Kemudian ketika dewasa, setiap kali berbicara di depan orang banyak, ia merasa takut.
Maka yang perlu dilakukan bukan mengatakan:
“Lupakan saja masa lalu itu.”
Tetapi:
- Apa yang sebenarnya terjadi?
- Apa yang dirasakan saat itu?
- Apa yang diyakini tentang dirinya setelah kejadian tersebut?
- Apakah keyakinan tersebut benar?
- Apakah pengalaman itu masih memengaruhi perilakunya sekarang?
- Bagaimana Islam mengajarkan dirinya memandang peristiwa tersebut?
- Apa yang perlu diperbaiki?
- Bagaimana ia kembali bertawakal kepada Allah?
Inilah yang dapat dipadukan dengan tazkiyatun nafs.
C. LANDASAN UTAMA: HATI PERLU DIKEMBALIKAN KEPADA ALLAH
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra'd: 28)
Ayat ini memberikan prinsip penting:
ketenangan hati tidak hanya dicari dengan membongkar masa lalu, tetapi terutama dengan mengembalikan hati kepada Allah.
Karena itu, proses pendampingan Islami tidak berhenti pada:
“Apa yang terjadi pada masa lalu?”
Tetapi harus dilanjutkan dengan:
“Setelah mengetahui hal tersebut, bagaimana kita kembali kepada Allah?”
D. LIMA LANGKAH DIAGNOSA CEPAT
Untuk pemula, gunakan alur sederhana:
1. KENALI KELUHANNYA
Apa yang sedang dirasakan?
2. LACAK KAPAN DIMULAI
Kapan pertama kali keluhan muncul?
3. CARI MOMEN PEMICUNYA
Apa yang terjadi sebelum keluhan muncul?
4. PERIKSA BEBERAPA KEMUNGKINAN
Fisik, psikologis, keluarga, spiritual, lingkungan, dan kemungkinan gangguan.
5. TENTUKAN LANGKAH PENDAMPINGAN
Ruqyah, ibadah, konseling, perbaikan pola hidup, pemeriksaan medis, atau kombinasi beberapa pendekatan.
1. IDENTIFIKASI AWAL
A. Keluhan Utama
Tanyakan dengan bahasa sederhana:
- “Apa yang paling mengganggu?”
- “Sejak kapan?”
- “Biasanya muncul kapan?”
- “Apa yang terjadi sebelum keluhan muncul?”
- “Apa yang membuatnya semakin berat?”
- “Apa yang membuatnya sedikit membaik?”
Jangan langsung bertanya:
“Kamu diganggu jin?”
Pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang mengarahkan seluruh jawabannya kepada jin meskipun penyebabnya belum jelas.
Lebih baik mulai dengan pertanyaan terbuka.
2. MELACAK PENGALAMAN YANG MEMBEKAS
Setelah keluhan dipahami, tanyakan:
“Apakah pernah ada kejadian yang sangat membekas?”
Misalnya:
- kehilangan orang yang dicintai;
- perceraian orang tua;
- pertengkaran keluarga;
- bullying;
- kekerasan;
- penghinaan;
- kegagalan besar;
- kecelakaan;
- kehilangan pekerjaan;
- dosa atau kesalahan yang sangat disesali;
- konflik dengan seseorang.
Kemudian tanyakan:
“Setelah kejadian itu, apa yang berubah dalam diri Anda?”
Misalnya:
Sebelumnya: percaya diri.
Setelah kejadian: takut berbicara.
Berarti kita menemukan sebuah titik perubahan kehidupan yang perlu dipahami lebih lanjut.
3. EMOSI YANG BELUM TERSELESAIKAN
Tanyakan:
“Apa yang paling Anda rasakan ketika mengingat kejadian tersebut?”
Pilihan sederhananya:
- takut;
- marah;
- sedih;
- kecewa;
- malu;
- bersalah;
- merasa tidak berharga;
- merasa tidak dicintai;
- merasa tidak aman.
Jangan buru-buru memberikan ceramah.
Dengarkan terlebih dahulu.
Karena terkadang seseorang bukan membutuhkan jawaban panjang, tetapi membutuhkan ruang yang aman untuk mengungkapkan apa yang selama ini dipendam.
4. PERIKSA HUBUNGAN DENGAN ALLAH
Setelah memahami masalah, barulah masuk kepada aspek spiritual.
Tanyakan dengan lembut:
- Bagaimana shalatnya?
- Bagaimana hubungan dengan Al-Qur'an?
- Apakah ada kebiasaan dosa yang sedang diperjuangkan?
- Apakah ada kewajiban yang ditinggalkan?
- Apakah ada kezaliman terhadap orang lain?
- Apakah ada masalah dengan orang tua atau pasangan?
- Apakah ada rasa bersalah kepada Allah?
Namun harus dijelaskan:
Tidak setiap penyakit adalah akibat dosa.
Sakit bisa menjadi ujian, takdir, sebab biologis, akibat lingkungan, atau berbagai sebab lainnya.
Jangan membuat orang yang sedang sakit merasa:
“Berarti Allah menghukum saya.”
Sebaliknya, arahkan kepada:
“Apa yang bisa saya perbaiki dan bagaimana saya mendekat kepada Allah dalam keadaan ini?”
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. az-Zumar: 53)
Maka taubat adalah pintu harapan, bukan alat untuk menakut-nakuti pasien.
5. MEMERIKSA FAKTOR AIN, SIHIR DAN HASAD
Dalam aqidah Islam, keberadaan ain dan sihir memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan Ash-Shunnah Al-Maqbulah.
Namun dalam praktik pendampingan:
kemungkinan bukan kepastian.
Jangan mengatakan:
“Anda terkena sihir.”
hanya karena seseorang:
- sering mimpi buruk;
- badan terasa berat;
- takut;
- sering sakit;
- rumah terasa tidak nyaman;
- mengalami konflik keluarga.
Tanda-tanda tersebut tidak secara otomatis membuktikan sihir atau jin.
Gunakan prinsip:
Periksa terlebih dahulu, jangan menuduh terlebih dahulu.
Jika memang ada alasan syar'i untuk melakukan ruqyah, maka lakukan ruqyah syar'iyyah, bukan ritual yang tidak memiliki dasar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
“Tidak mengapa melakukan ruqyah selama di dalamnya tidak terdapat kesyirikan.”
(HR. Muslim no. 2200)
6. RUQYAH UNTUK PEMULA
Ruqyah syar'iyyah pada dasarnya adalah doa dan bacaan yang sesuai syariat untuk memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah.
Di antara bacaan yang mudah dipelajari:
Al-Fatihah
Al-Fatihah memiliki dasar dalam ruqyah. Para sahabat pernah meruqyah seseorang yang terkena sengatan dengan membaca Al-Fatihah, dan Nabi ﷺ membenarkannya.
Ayat Kursi
QS. al-Baqarah: 255.
Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas
Dibaca sebagai bagian dari dzikir dan perlindungan.
Doa perlindungan
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq.
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.”
Doa ini memiliki dasar dalam Shahih Muslim.
E. DIAGNOSA CEPAT PADA ANAK SEBELUM BALIGH
Pada anak sebelum baligh, jangan langsung menggali dosa anak.
Anak belum menjadi mukallaf sebagaimana orang dewasa.
Fokus pertama adalah:
“Apa yang sedang terjadi di sekitar anak?”
1. Periksa keluarga
Tanyakan:
- Apakah orang tua sering bertengkar?
- Apakah anak sering dimarahi?
- Apakah ada kekerasan verbal?
- Apakah anak sering ditakut-takuti?
- Apakah anak kurang mendapatkan perhatian?
- Apakah anak sering dibandingkan?
- Apakah orang tua terlalu menuntut?
- Apakah suasana rumah aman?
2. PERIKSA LINGKUNGAN ANAK
Tanyakan:
- Apakah pernah mengalami bullying?
- Apakah pernah ditakut-takuti teman?
- Apakah sering menonton konten horor?
- Apakah pernah mengalami kejadian yang mengejutkan?
- Apakah ada perubahan sekolah?
- Apakah ada masalah dengan guru atau teman?
3. JANGAN MENUDUH DOSA ORANG TUA SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT ANAK
Ini bagian yang sangat penting.
Kita boleh mengajak orang tua melakukan:
- istighfar;
- taubat;
- memperbaiki shalat;
- memperbaiki akhlak;
- memperbaiki hubungan suami-istri;
- memperbaiki pola pengasuhan;
- memperbanyak doa untuk anak.
Tetapi jangan mengatakan:
“Anak Anda sakit karena dosa Anda.”
Pernyataan seperti itu terlalu jauh dan tidak memiliki dasar untuk kasus individual.
Yang dapat dikatakan:
“Mari kita lihat apakah ada pola perilaku atau kondisi rumah yang mungkin ikut memengaruhi keadaan anak.”
Allah memerintahkan:
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. at-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan besarnya tanggung jawab pendidikan dan penjagaan keluarga.
F. KETIKA ANAK TAKUT
Misalnya anak mengatakan:
“Aku takut tidur sendiri.”
Jangan langsung mengatakan:
“Jangan takut, itu jin!”
Karena kalimat tersebut justru dapat memperbesar ketakutan anak.
Lebih baik:
“Ayah/Ibu tahu kamu takut. Ayah/Ibu di sini. Kita berdoa kepada Allah. Allah adalah pelindung kita.”
Kemudian ajarkan secara sederhana:
حَسْبِيَ اللَّهُ
“Cukuplah Allah bagiku.”
Dan tanamkan makna tawakal.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
(QS. ath-Thalaq: 3)
G. DOA PERLINDUNGAN UNTUK ANAK
Doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk perlindungan al-Hasan dan al-Husain adalah:
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan, binatang yang berbahaya, dan dari setiap mata yang jahat.”
Doa ini dapat diajarkan kepada orang tua sebagai bagian dari ikhtiar perlindungan.
H. ANAK SETELAH BALIGH
Setelah baligh, pendekatan mulai diarahkan langsung kepada individu.
Namun orang tua tetap dapat menjadi faktor penting dalam proses pendampingan.
Gunakan pertanyaan sederhana:
1. Kapan rasa takut mulai muncul?
2. Apa yang terjadi ketika pertama kali muncul?
3. Apa yang paling ditakutkan?
4. Apa yang Anda pikirkan ketika ketakutan datang?
5. Apakah pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya?
6. Apakah ada masalah keluarga, pekerjaan, pendidikan atau hubungan?
7. Bagaimana kondisi shalat dan ibadah?
8. Apakah ada dosa yang sedang ingin ditinggalkan?
9. Apakah sudah pernah melakukan pemeriksaan medis jika terdapat gejala fisik?
Dengan pertanyaan tersebut, pendamping memperoleh peta masalah, bukan sekadar dugaan.
I. KASUS RASA TAKUT
Rasa takut harus dipahami terlebih dahulu.
Tidak semua takut adalah penyakit.
Takut terhadap bahaya nyata merupakan sesuatu yang normal.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika ketakutan:
- berlebihan;
- terus-menerus;
- tidak sesuai dengan situasi;
- mengganggu ibadah;
- mengganggu pekerjaan;
- mengganggu tidur;
- mengganggu hubungan sosial;
- atau membuat seseorang tidak mampu menjalani kehidupan normal.
J. TAHAPAN TAZKIYATUN NAFS UNTUK RASA TAKUT
Tahap 1 — Isti'anah
Pertama-tama kembali kepada Allah.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. al-Fatihah: 5)
Jangan memulai terapi dengan keyakinan:
“Saya yang menyembuhkan.”
Tetapi:
“Kita berikhtiar dan memohon pertolongan kepada Allah.”
Tahap 2 — Muhasabah
Tanyakan:
“Apa yang sedang terjadi dalam diri saya?”
Bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk mengenali keadaan.
Tahap 3 — Taubat
Jika terdapat dosa, lakukan taubat.
Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, tetapi:
- meninggalkan dosa;
- menyesal;
- memohon ampun;
- bertekad tidak mengulanginya;
- mengembalikan hak manusia apabila berkaitan dengan hak orang lain.
Tahap 4 — Tazkiyah
Membersihkan hati dari:
- kesyirikan;
- kemaksiatan;
- kesombongan;
- hasad;
- dendam;
- putus asa;
- buruk sangka kepada Allah.
Kemudian menggantinya dengan:
- tauhid;
- tawakal;
- sabar;
- syukur;
- husnudzan kepada Allah;
- doa;
- dzikir;
- amal saleh.
K. HUSNUDZAN KEPADA ALLAH
Orang yang takut sering memiliki pikiran:
“Pasti akan terjadi sesuatu yang buruk.”
Pendamping membantu mengubahnya menjadi:
“Saya tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Saya hanya mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui, dan saya diperintahkan untuk berikhtiar dan bertawakal.”
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra'd: 28)
Dan Allah berfirman:
وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Dan kepada Tuhan mereka bertawakal.”
(QS. al-Anfal: 2)
L. DOA NABI MUSA 'ALAIHISSALAM
Ketika menghadapi tugas berat, Nabi Musa 'alaihissalam berdoa:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
“Ya Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.”
(QS. Thaha: 25–26)
Doa ini sangat baik untuk diajarkan kepada orang yang menghadapi tekanan dan rasa takut.
Namun perlu dipahami:
Doa bukan mantra untuk menghilangkan masalah secara otomatis.
Doa adalah bentuk ibadah, permohonan pertolongan, dan penguatan hubungan seorang hamba dengan Allah.
M. MENGHADAPI KETAKUTAN SECARA BERTAHAP
Jangan selalu memaksa seseorang:
“Lawan ketakutanmu sekarang!”
Tetapi lakukan secara bertahap.
Contoh:
Seseorang takut berbicara di depan umum.
Tahap 1
Berbicara kepada satu orang yang dipercaya.
Tahap 2
Berbicara kepada dua atau tiga orang.
Tahap 3
Menyampaikan materi singkat.
Tahap 4
Berbicara kepada kelompok kecil.
Tahap 5
Berbicara di hadapan kelompok yang lebih besar.
Di setiap tahap:
ikhtiar + doa + tawakal + evaluasi.
N. RUTINITAS RUHIYAH SEDERHANA
Untuk pemula, jangan langsung memberikan puluhan amalan.
Mulailah dari yang pokok:
1. Menjaga shalat
2. Membaca Al-Qur'an
3. Dzikir pagi dan petang
4. Istighfar
5. Doa perlindungan
6. Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas
7. Ayat Kursi sebelum tidur
Terdapat riwayat shahih bahwa membaca Ayat Kursi sebelum tidur menjadi sebab penjagaan Allah dan setan tidak mendekat sampai pagi.
Yang penting bukan banyaknya amalan, tetapi konsistensi dan pemahaman terhadap maknanya.
O. KAPAN HARUS MERUJUK?
Pendamping ruqyah atau konselor tidak boleh merasa harus menyelesaikan semua masalah sendiri.
Rujuk kepada tenaga kesehatan atau profesional yang sesuai apabila terdapat:
- nyeri atau gejala fisik yang berat;
- pingsan;
- kejang;
- gangguan kesadaran;
- perubahan perilaku yang ekstrem;
- gangguan tidur berat;
- kecemasan yang sangat mengganggu fungsi;
- pikiran untuk menyakiti diri;
- gejala yang menetap atau semakin berat.
Prinsipnya:
Ruqyah tidak bertentangan dengan pengobatan medis.
Keduanya merupakan bentuk ikhtiar, sedangkan kesembuhan berada di tangan Allah.
P. FORMULA SEDERHANA UNTUK PEMULA
Agar mudah diingat, gunakan rumus:
KELUHAN → WAKTU → PEMICU → KONDISI → SPIRITUAL → IKHTIAR
1. KELUHAN
“Apa yang dirasakan?”
2. WAKTU
“Sejak kapan?”
3. PEMICU
“Apa yang terjadi sebelum muncul?”
4. KONDISI
“Bagaimana kondisi fisik, keluarga, pekerjaan, sekolah dan lingkungan?”
5. SPIRITUAL
“Bagaimana hubungan dengan Allah dan ibadah?”
6. IKHTIAR
“Apa langkah yang paling tepat dilakukan sekarang?”
Q. PRINSIP BESAR YANG HARUS DIPEGANG PERUQYAH PEMULA
Jangan cepat menuduh jin.
Jangan cepat menuduh sihir.
Jangan cepat menuduh ain.
Jangan cepat menuduh dosa.
Jangan mengabaikan penyakit medis.
Jangan membuat pasien bergantung kepada peruqyah.
Jangan memberikan diagnosis yang tidak memiliki dasar.
Sebaliknya:
Dengarkan → pahami → periksa → arahkan → dampingi → tawakal kepada Allah.
R. KESIMPULAN
Pendekatan Cleansing Memories–Tazkiyatun Nafs dalam pendampingan Islami bukanlah metode untuk “menghapus ingatan buruk”.
Ia adalah proses untuk membantu seseorang:
mengenali masalah → memahami pengalaman → mengoreksi pemaknaan → bertaubat → membersihkan hati → memperkuat tauhid → memperbaiki hubungan dengan Allah → melakukan ikhtiar → kemudian melanjutkan kehidupan dengan tawakal.
Untuk anak sebelum baligh, perhatian utama diarahkan kepada:
orang tua + keluarga + lingkungan + pola asuh + perlindungan spiritual.
Untuk orang yang telah baligh, pendampingan lebih diarahkan kepada:
dirinya sendiri + pengalaman hidup + kondisi emosional + ibadah + tanggung jawab pribadi.
Dan ketika muncul dugaan ain, sihir atau gangguan lainnya:
jangan menjadikan dugaan sebagai diagnosis.
Lakukan ruqyah syar'iyyah sesuai tuntunan, sambil tetap memperhatikan sebab medis, psikologis, sosial, keluarga dan lingkungan.
Tujuan akhirnya bukan sekadar:
“hilangnya gejala.”
Tetapi lebih jauh:
“pulihnya hubungan manusia dengan Allah, tertatanya hati, membaiknya kehidupan, dan kembalinya seseorang kepada jalan yang diridhai Allah.”
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. adz-Dzariyat: 56)
Dengan demikian, kesembuhan dalam perspektif Islami bukan hanya sehatnya tubuh dan tenangnya emosi, tetapi juga kembalinya manusia kepada tujuan penciptaannya: beribadah kepada Allah.
Wallahu A’lam
